بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاماتاما على سيدنا محمدالذى تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى اله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Rabu, 18 April 2012

TAFSIR BASMALAH Bagian Ke-tiga

TAFSIR BASMALAH
Bagian Ke-tiga
By Dawam Mu'allim

وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : من قرأ بسم الله الرحمن الرحيم، وكان مؤمنا، سبحت معه الجبال، إلا أنه لا يسمع تسبيحها.
Dan telah diriwayatkan dari Nabi SAW sesungguhnya beliau telah bersabda : "Barangsiapa yang membaca BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, sedangkan dia orang mukmin, maka gunung-gunung pun ikut bertasbih bersamanya, ...hanya saja dia tidak mendegar tasbihnya para gunung itu

وروي عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : إذا قال العبد بسم الله الرحمن الرحيم، قالت الجنة: لبيك اللهم وسعديك، إلهي، إن عبدك فلانا قال بسم الله الرحمن الرحيم، اللهم زحزحه عن النار وأدخله الجنة.
Dan telah diriwayatkan dari beliau SAW bahwasanya beliau telah bersabda : "Apabila seorang hamba mengucapkan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, maka surga pun berkata : Saya memenuhi panggilan-Mu Ya Alloh, wahai Tuhanku, sesungguhnya hamba-Mu fulan telah mengucapkan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, Ya Alloh selamatkan dia dari neraka dan masukkanlah dia ke dalam surga

وروي أن الكتب المنزلة من السماء إلى الأرض مائة وأربعة، أنزل على شيث ستون، وعلى إبراهيم ثلاثون، وعلى موسى قبل التوراة عشرة، والتوراة والإنجيل والزبور والفرقان. وأن معاني كل الكتب مجموعة في القرآن، ومعانيه مجموعة في الفاتحة ولهذا سميت أم الكتاب ومعانيها مجموعة في البسملة، ومعانيها مجموعة في بائها، ومعناها : بي كان ما كان، وبي يكون ما يكون.
Dan telah diriwayatkan bahwasanya kitab-kitab yang diturunkan dari langit ke dunia ada 104, yang diturunkan kepada Nabi Syits 60, kepada Nabi Ibrahim 30, kepada Nabi Musa sebelum Taurat 10, dan at-Taurat, al-Injil, az-Zabur, dan al-Furqon. Dan bahwasanya makna-maknanya setiap kitab-kitab itu dikumpulkan di dalam al-Qur'an, dan makna-maknanya al-Qur'an di kumpulkan di dalam al-Fatihah, dan karena itulah al-Fatihah diberi nama Ummul Kitab, dan makna-maknanya al-Fatihah dikumpulkan di dalam Basmalah, dan makna-maknanya Basmalah dikumpulkan di dalam huruf BA'nya, dan maknanya BA' adalah : Dengan-Ku telah adanya sesuatu yang telah ada, serta dengan-Ku akan adanya sesuatu yang akan ada

وقد قال الامام علي كرم الله وجهه : لو طويت لي وسادة لقلت في الباء من بسم الله الرحمن الرحيم وقر سبعين بعيرا. وفي رواية عنه: لو شئت لاوقرت لكم ثمانين بعيرا من معنى بسم الله الرحمن الرحيم.
Sungguh Imam Ali Karromallohu wajhah telah berkata : "Kalau seandainya dilipat sandaran bantal bagiku sungguh aku akan berkata di dalam menafisiri huruf BA' dari BISMILLAAHIR-ROCHMAANIR-RAHIIM yang akan membebani tujuh puluh unta". Di dalam suatu riwayat darinya dikatakan : "Kalau seandainya aku berkehendak sungguh aku akan membebani delapan puluh unta bagi kalian dari maknanya BISMILLAAHIR-RACHMAANIR-RAHIIM

وعن علي رضي الله عنه، مرفوعا : ما من كتاب يلقى في الأرض وفيه بسم الله الرحمن الرحيم إلا بعث الله ملائكة يحفون عليها بأجنحتهم، حتى يبعث الله وليا من أوليائه يرفعه. فمن رفع كتابا من الأرض فيه البسملة رفع الله اسمه في أعلى عليين، وغفر له ولوالديه ببركتها.
Dan dari Ali ra secara marfu' diriwayatkan : Tidaklah dari suatu kitab yang djumpai di bumi sedangkan di dalamnya terdapat BISMILLAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM melainkan Alloh akan mengutus para malaikat untuk menaunginya dengan sayap-sayap mereka sehingga Alloh mengutus seorang wali dari para wali-Nya untuk mengangkatnya, lalu barangsiapa mengangkat suatu kitab dari bumi yang di dalamnya terdapat Basmalah maka Alloh akan meninggikan namanya di dalam setinggi-tingginya derajat para hamba yang tinggi, serta diampuni dosa-dosa baginya dan dosa-dosa bagi kedua orang tuanya dengan berkahnya Basmalah

DALIL-DALIL HADITS YANG MENJELASKAN BAHWA BASMALAH ADALAH SATU AYAT DARI AL-FATIHAH

الدلائل الحديثية في البسملة أنها أية من الفاتحة
DALIL-DALIL HADITS
YANG MENJELASKAN BAHWA
BASMALAH ADALAH SATU AYAT DARI AL-FATIHAH
By: dawam Mu'allim

Dari Qatadah r.a, berkata : Anas r.a, ditanya bagaimana adanya bacaannya Nabi SAW?, ia berkata :

كَانَتْ مَدًّا، ثُمَّ قَرَأَ : { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }، يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ، وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ، وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ. {رواه البخاري (٥٠٤٦)...، وأبو داود (١٤٦٥)، وغيرهما}. حديث صحيح
“Adalah bacaannya panjang, kemudian ia membaca “BISSMILLAAHI AR-RAHMAANI AR-RAHIIMI”, ia memanjangkan pada Bismillaahi, dan pada Ar-Rahmaani, dan pada Ar-Rahiimi”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 5046, dan Abu Dawud, No Hadits : 1465). Hadits Shohih
Dari Abu Hurairah r.a, berkata, Rasululloh SAW telah bersabda :

إِذَا قَرَأْتُمْ الْحَمْدُ للهِ فَاقْرَءُوا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي، وَبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِحْدَاهَا. {رواه الدارقطني (١١٧٧)}. إسناده حسن

"Apabila kalian membaca al-Hamdulillah (surat al-Fatihah) maka bacalah BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, karena sesungguhnya ia adalah Ummul Qur'an dan Ummul Kitab serta as-Sab'ul Matsani, dan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM adalah salah satu ayat darinya". (H.R. ad-Daraquthni, No : 1177). Sanadnya adalah hasan

Ali bin Abu Thalib r.a, dan ‘Ammar bin Yaasir r.a, keduanya telah meriwayatkan :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَجْهَرُ فِى الْمَكْتُوبَاتِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ، وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ صَلاَةَ اْلغَدَاةِ، وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ. {رواه الدارقطني (١٧١٨)، والحاكم في المستدرك (١١٣٩)}. وقال الحاكم : هذا حديث صحيح الإسناد، ولا أعلم في رواته منسوبا إلى الجرح.
“Sesungguhnya Nabi SAW, adalah beliau mengeraskan di dalam sholat-sholat fardlu dengan BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM, dan adalah beliau qunut di dalam sholat Shubuh, dan adalah beliau bertakbir dari hari ‘Arafah pada sholat Shubuh, dan beliau memutuskannya pada sholat ‘Ashar pada akhir hari-hari tasyriq”. (H.R. Ad-Daraquthni, No Hadits : 1718, dan Al-Hakim, No Hadits : 1139). Dan Al-Hakim berkata : Ini adalah hadits yang shohih sanadnya, dan saya tidak tahu di beberapa perowinya yang dinisbatkan kepada kecacatan

Penjelasan : Oleh sebab itulah Imam as-Syafi'i dan mayoritas ulama berpendapat bahwa wajib membaca Basmalah pada permulaan surat al-Fatihah di dalam tiap-tiap sholat. Wallohu A'lam

TAFSIR BASAMALAH Bagian Kedua

تفسير البسملة في القسم الثاني
TAFSIR BASAMALAH
Bagian Kedua
By: Dawam Mu'allim

وعدد حروف البسملة الرسمية تسعة عشر حرفا، وعدد خزنة النار تسعة عشر خازنا، كما قال الله تعالى: * (عليها تسعة عشر) *.
Dan jumlah huruf Basmalah yang resmi ada sembilan belas huruf, sedangkan jumlah malaikat penjaga neraka juga ada sembilan belas penjaga, sebagaimana Alloh berfirman : "Atasnya neraka ada sembilan belas malaikat" (Q.S. al-M...uddatsir : 30

قال ابن مسعود: فمن أراد أن ينجيه الله من الزبانية التسعة عشر فليقرأ البسملة، فيجعل الله له بكل حرف منها جنة من كل واحد منهم، فإنهم يقولونها في كل أفعالهم، فبها قوتهم وبها استضلعوا.
Ibnu Mas'ud berkata : Barangsiapa yang ingin agar Alloh menyelamatkan dia dari Malaikat Zabaniyah (Malaikat penjaga neraka) yang jumlahnya ada sembilan belas, maka hendaknya dia membaca Basmalah, maka Alloh akan menjadikan baginya dengan tiap-tiap huruf darinya sebagai tameng dari tiap-tiap salah seorang dari mereka, karena sesungguhnya mereka mengucapkannya di dalam tiap-tiap pekerjaan mereka, karena dengan Basmalah kekuatan mereka serta dengan Basmalah mereka meminta kekuatan

TAFSIR BASAMALAH Bagian Pertama

تفسير البسملة في القسم الأول
TAFSIR BASAMALAH
Bagian Pertama
By: Dawam Mu'allim
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر أو أقطع أو أجذم. أي قليل البركة.
Rasululloh SAW bersabda : Tiap-tiap perkara penting yang tidak dimulai di dalamnya dengan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, maka dia akan terpotong atau terputus atau terhenti. Artinya adalah sedikit barokahnya

...وقال النبي صلى الله عليه وسلم : أول ما كتب القلم بسم الله الرحمن الرحيم، فإذا كتبتم كتابا فاكتبوها أوله، وهي مفتاح كل كتاب أنزل.
Dan Nabi SAW bersabda : Awalnya sesuatu yang ditulis oleh al-Qolam adalah BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, oleh sebab itu apabila kalian menulis suatu kitab maka tulislah basmalah pada awalnya karena dia adalah pembukaannya tiap-tipa kitab yang telah diturunkan

Keterangan : Sehebat apapun suatu kitab atau suatu kalimat do'a, maka basmalah adalah yang menjadi imam paling di atas atau paling di muka. Oleh sebab itu kuasai-lah tafsir basmalah dengan segala rahasia yang ada di dalamnya. Maka ikutilah terus kajiannya pada episode berikutnya

Selasa, 17 April 2012

BEBERAPA FADHILAH SURAT AL-FATIHAH

فضائل سورة الفاتحة
BEBERAPA FADHILAH SURAT AL-FATIHAH
By: Dawam Mu'allim

Sebagai as-Sab'ul Matsani (Tujuh ayat yang di ulang-ulang)

Imam Al-Bukhari rahimahullah, meriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla r.a, berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ!، إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ، قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُو...تِيتُهُ. {رواه البخاري (٥٠٠٦)}. حديث صحيح
“Wahai Rasulullah!, sesungguhnya engkau telah berkata : Sungguh akan aku ajarkan kepadamu pada seagung-agungnya surat dari Al-Qur’an, beliau SAW, bersabda : Alhamdulillaahi Robbil ‘Alamiin, ia adalah As-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an yang agung yang aku telah diberikannya”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 5006).

Dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Ubaiy bin Ka’ab r.a, dengan redaksi :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلاَ فِي اْلإِنْجِيلِ وَلاَ فِي الزَّبُورِ وَلاَ فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا، وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنَ الْمَثَانِي، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ. {رواه الترمذي (٢٨٧٥)}. حديث حسن
“Demi Dzat yang jiwaku di genggaman-Nya, tidaklah diturunkan di dalam Taurat, dan tidak di dalam Injil, dan tidak di dalam Zabur, dan tidak pula di dalam Al-Qur’an sepertinya, dan sesungguhnya ia adalah As-Sab’ul Matsani, dan Al-Qur’an yang agung yang aku telah diberikannya”. (H.R. At-Tirmidzi, No Hadits : 2875). Dan ia berkata : Ini adalah hadits hasan lagi shohih.

SEBAGAI OBAT PENAWAR RACUN

Dalam hadits yang panjang Imam Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, berkata :

إنْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ، فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ، فَقَالُوا : يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ، إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : نَعَمْ، وَاللَّهِ، إِنِّي لَأَرْقِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ، لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ، فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ، حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلاً، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الْغَنَمِ، فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي، وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ، قَالَ : فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : إقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى : لاَ تَفْعَلُوا، حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرُوا لَهُ : فَقَالَ : وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ ثُمَّ قَالَ : قَدْ أَصَبْتُمْ، إقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا، فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. {رواه البخاري (٢٢٧٦)، ومسلم (٢٢١٠)، وأصحاب السنن}. حديث صحيح
Telah pergi serombongan dari para sahabat Nabi SAW, dalam suatu perjalanan yang mereka adakan, sehingga mereka singgah di suatu penduduk kampung dari perkampungan orang Arab, lalu mereka (para sahabat) meminta bertamu kepada mereka (penduduk kampung), namun penduduk itu enggan menerima mereka sebagai tamu, kemudian kepala suku kampung itu disengat oleh binatang beracun, kemudian mereka berupaya dengan tiap-tiap sesuatu untuknya, namun segala sesuatu itu tidak berguna baginya, maka berkatalah sebagian mereka : Kalau sekiranya kalian mendatangi rombongan itu yang mereka telah singgah, kemungkinannya bila ada sesuatu di sisi sebagian mereka, kemudian mereka mendatangi rombongan sahabat, lalu berkata : “Wahai rombongan, sesungguhnya tuan kami telah disengat binatang berbisa, dan kami telah berupaya untuknya dengan tiap-tiap sesuatu, namun tidak berguna kepadanya, maka apakah di antara kalian ada yang memiliki sesuatu?, maka sebagian sahabat berkata : “ya”, dan demi Allah, sesungguhnya saya akan meruqyah, akan tetapi demi Allah, sungguh kami telah meminta bertamu kepada kalian, dan kalian tidak menerima kami sebagai tamu, maka saya tidak akan meruqyah bagi kalian, sehingga kalian menjadikan untuk kami suatu upah, kemudian mereka menyetujuinya dengan upah beberapa ekor kambing, lalu ia (peruqyah) pergi dan meludahi di atas bekas sengatan, ia membaca : Al-Hamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin (maksudnya adalah Surat Al-Fatihah), lalu ia (kepala suku itu) sembuh total, dan ia dapat berjalan, dan tidaklah ia merasa sakit sama sekali. Ia (perawi) berkata : Lalu mereka (penduduk kampung itu) memenuhi upah mereka yang telah mereka sepakati atasnya. Maka berkatalah sebagian para sahabat : Bagilah oleh kalian semua!, lalu berkata orang yang telah meruqyah : Janganlah kalian melakukannya, sehingga kami datang kepada Rasulullah SAW, lalu kami ceritakan kepada beliau apa yang telah terjadi, maka kami akan melihat apakah yang akan beliau perintahkan kepada kami!, kemudian mereka datang kepada Rasulullah SAW, lalu mereka meyebutkan hal itu kepada beliau, kemudian beliau bersabda : Bagaimana kamu tahu kalau sesungguhnya ia (Surat Al-Fatihah) adalah ruqyah?, kemudian beliau bersabda : Sungguh kalian telah benar, bagi-bagilah oleh kalian semua, dan jadikanlah bersama kalian untukku satu bagian!. Lalu Rasulullah SAW, tertawa”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 2276, dan Muslim, No Hadits : 2210, dan Ashab As-Sunan).

SEBAGAI RUQYAH MENGOBATI ORANG GILA

Imam Abu Dawud rahimahullah, meriwayatkan dari Khorijah bin As-Shalt At-Taimiy, dari pamannya (‘Ilaqoh bin Shukhar r.a), sesungguhnya ia berkata :

أَقْبَلْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْنَا عَلَى حَيٍّ مِنَ الْعَرَبِ، فَقَالُوا : إِنَّا أُنْبِئْنَا أَنَّكُمْ قَدْ جِئْتُمْ مِنْ عِنْدِ هَذَا الرَّجُلِ بِخَيْرٍ، فَهَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رُقْيَةٍ؟ فَإِنَّ عِنْدَنَا مَعْتُوهًا فِي الْقُيُودِ، قَالَ : فَقُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ : فَجَاءُوا بِمَعْتُوهٍ فِي الْقُيُودِ، قَالَ : فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ، ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ غُدْوَةً وَعَشِيَّةً، كُلَّمَا خَتَمْتُهَا أَجْمَعُ بُزَاقِي، ثُمَّ أَتْفُلُ، فَكَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عِقَالٍ، قَالَ : فَأَعْطَوْنِي جُعْلاً، فَقُلْتُ : لاَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : كُلْ فَلَعَمْرِي مَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ. {رواه أبو داود (٣٩٠١، و٣٨٩٦)}. حديث حسن
“Kami telah menghadap dari sisi Rasulullah SAW, lalu kami datang ke perkampungan orang Arab, kemudian mereka (penduduk kampung) berkata : Sesungguhnya kami telah diberi kabar, bahwasanya kalian telah datang dari sisi lelaki ini dengan membawa kebaikan, maka apakah kalian mempunyai obat atau ruqyah, karena sesunguhnya di sisi kami ada seorang yang kurang waras akalnya (GILA) di dalam ikatan. Ia (perawi) berkata : Kami (‘Ilaqoh) berkata : “Ya”, ia (perawi) berkata : Maka mereka mendatangi orang yang kurang waras akalnya di dalam ikatan, ia (‘Ilaqoh) berkata : Saya bacakan atasnya Surat Al-Fatihah selama tiga hari, pagi dan sore, tiap-tiap aku mengakhiri (bacaan Al-Fatihah), aku mengumpulkan ludahku, kemudian aku semburkan. Ia berkata : Lalu ia sembuh total. Ia berkata : Maka mereka memberiku upah. Lalu aku berkata : Tidak, sehingga aku bertanya kepada Rasulullah SAW, maka beliau SAW, bersabda : Makanlah, demi umurku, ada seseorang yang makan dengan hasil ruqyah kebathilan, sungguh kamu telah makan dengan hasil ruqyah kebenaran”. (H.R. Abu Dawud, No Hadits : 3901, dan 3896).

Surat Al-Fatihah itu dapat digunakan untuk apa saja tergantung niat dan tujuan orang yang membacanya, Rasululloh SAW bersabda :

الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

PEMBUKAAN TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

PEMBUKAAN TAFSIR SURAT AL-FATIHAH
By: Dawam Mu'allim
أسماء سورة الفاتحة خمسة وعشرون إسما، وهي : فاتحة الكتاب، وفاتحة القرآن، وأم الكتاب، وأم القرآن، والقرآن العظيم، والسبع المثاني، والوافية، والكافية، والأساس، والنور، وسورة الحمد، وسورة الشكر، وسورة الحمد الأولى، وسورة الحمد... القصرى، والرقية، والشفاء، والشافية، وسورة الصلاة، الصلاة، وسورة الدعاء، وسورة السؤال، وسورة تعليم المسألة، وسورة المناجاة، وسورة التفويض.

Nama-nama surat al-Fatihah ada 25 nama, yaitu

Fatihatul Kitab, Fatihatul Qur'an, Ummul Kitab, Ummul Qur'an, al-Qur'anul 'Adhim, As-Sab'ul Matsani, Al-Wafiyah, al-Kafiyah, Al-Asas, an-Nur, Suratul Hamdi, Suratus-Sukri, Suratul Hamdi al-Ula, Suratul Hamdi al-Qushro, ar-Ruqyah, as-Syifa', as-Syafiyah, Suratus-Sholat, as-Sholat, Suratud-Do'a, Suratus-Soal, Surah Ta'limil Masalah, Suratul Munajat, dan Surat at-Tafwidh

HUKUM TA'AWWUDZ DI DALAM SHOLAT

حكم التعوذ في الصلاة
HUKUM TA'AWWUDZ DI DALAM SHOLAT
By: dawam Mu'allim

اختلف العلماء في التعوذ في الصلاة، قال القرطبي : حكى النقاش عن عطاء : أن الاستعاذة واجبة. وكان ابن سيرين والنخعي وقوم يتعوذون في الصلاة كل ركعة، ويمتثلون أمر الله في الإستعاذة على العموم، وأبو حنيفة والشافعي يتعوذان في الركعة الأولى من الصلاة ويريان قراءة الصلاة كلها كقراءة واحدة، ومالك لا يرى التعوذ في الصلاة المفروضة ويراه في قيام رمضان.
Pa...ra ulama telah berbeda pendapat di dalam hukum membaca ta'awwudz di dalam sholat. Imam al-Qurthubi berkata : an-Nuqosy telah menceritakan dari 'Atho bahwasanya membaca ta'awwudz itu wajib, dan adanya Ibnu Siirin dan an-Nakho'i serta suatu kaum mereka membaca ta'awwudz di dalam sholat pada tiap-tiap roka'at, dan mereka menjalankan perintah Alloh di dalam ayat Isti'adzah secara umum. Sedangkan Imam abu Hanifah dan Imam as-Syafi'i mereka berdua membaca ta'awwudz di dalam roka'at pertama dari sholat, dan mereka berdua perpendapat bahwa bacaan sholat seluruhnya seperti bacaan yang satu, sedangkan Imam Malik tidak berpendapat pada ta'awwudz di dalam sholat fardhu, namun beliau berpendapat membaca ta'awwudz di dalam sholat romadhon (Tarawich).

وقال النووي في الأذكار : أن التعوذ مستحب في الركعة الأولى بالإتفاق، فإن لم يأت به في الأولى أتى به في الثانية، فإن لم يفعل ففيما بعدها، فلو تعوذ في الأولى هل يستحب في الثانية ؟ فيه وجهان لأصحابنا، أصحهما : أنه يستحب، لكنه في الأولى آكد، وإذا تعوذ في الصلاة التي يسر فيها بالقراءة، أسر بالتعوذ، فإن تعوذ في التي يجهر فيها بالقراءة، فهل يجهر ؟ فيه خلاف، من أصحابنا من قال : يسر، وقال الجمهور : للشافعي في المسألة قولان. أحدهما : يستوي الجهر والإسرار، وهو نصه في " الأم ". والثاني يسن الجهر ، وهو نصه في " الإملاء ". ومنهم من قال : فيه قولان. أحدهما : يجهر ، صححه الشيخ أبو حامد الاسفراييني إمام أصحابنا العراقيين، وصاحبه المحاملي وغيرهما، وهو الذي كان يفعله أبو هريرة رضي الله عنه. وكان ابن عمر رضي الله عنهما يسر، وهو الأصح عند جمهور أصحابنا، وهو المختار، والله أعلم.
Dan Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar berkata : Sesungguhnya ta'awwudz adalah disunnahkan di dalam roka'at pertama dengan kesepakatan para ulama, lalu jika dia tidak membaca di dalam roka'at pertama maka dia membacanya di dalam roka'at kedua, lalu jika dia tidak mengerjakannya maka di dalam roka'at yang setelahnya, kalau dia berta'awwudz di dalam roka'at pertama apakah disunnahkan di dalam roka'at kedua?, di dalamnya ada dua pendapat : Yang lebih shohih dari keduanya adalah disunnahkan, akan tetapi di dalam roka'at pertama lebih kuat. Dan apabila dia berta'awwudz di dalam sholat yang sirr (pelan) maka dia juga memelankan ta'awwudz, lalu jika dia berta'awwudz di dalam sholat jahr (keras) apakah juga dikeraskan? Di dalamnya ada perbedaan pendapat : Sebaian sahabat kami ada orang yang berkata : Hendaknya tetap dipelankan, dan mayoritas ulama berkata : Hendaknya ikut dibaca jahr (keras). Bagi Imam as-Syafi'i di dalam masalah ini ada dua pendapat, yaitu salah satunya menyamakan antara jahr dan sirr, pendapat ini dinash di dalam kitab al-Umm, dan pendapat yang kedua hendaknya dikerasakan (di dalam sholat jahr), pendapat ini di nash di dalam kitab al-Imla. Dan sebagian ulama ada orang yang berkata : Di dalamnya ada dua pendapat, salah satunya adalah di keraskan, pendapat ini dishohihkan oleh Syech Abu Hamid al-Isfirayaini Imam Madzhab Syafi'i di Irak, dan juga oleh al-Mahamiliy dan selain keduanya. Dan yang dilakukan oleh Abu Hurairah adalah (jahr), sedangkan Ibnu Umar tetap membaca sirr (walaupun di dalam sholat jahr), dan ini-lah yang lebih shohih menurut mayoritas ulama madzhab syafi'i, dan pendapat ini adalah yang terpilih. Wallohu A'lam

FADHILAH TA'AWUDZ

FADHILAH TA'AWWUDZ
Tafsir al-Qurthubiy
By: Dawam Mu'allim

روى مسلم عن سليمان بن صرد قال : آستب رجلان عند النبي صلى الله عليه وسلم فجعل أحدهما يغضب ويحمر وجهه وتنتفخ أوداجه، فنظر إليه النبي صلى الله عليه وسلم فقال : " إني لأعلم كلمة لو قالها لذهب ذا عنه أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ". فقام إلى الرجل ممن سمع النبي صلى الله عليه وسلم فقال : هل تدري ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم آنفا ؟ قال : " إني ...لأعلم كلمة لو قالها لذهب ذا عنه أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ". فقال له الرجل : أمجنونا تراني ! أخرجه البخاري أيضا.
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Sulaiman bin Shord berkata : Ada dua orang lelaki saling mencaci maki di samping Rasululloh SAW, lalu salah satu dari keduanya menjadi marah dan wajahnya memerah dan urat lehernya mengembang, lalu Nabi SAW memandang kepadanya, lalu beliau bersabda : "Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalimat kalau dia membacanya sungguh akan hilang hal itu darinya A'UUDZU BILLAAHI MINAS-SYAITHOONIR-ROJIIM" lalu ada orang yang mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi SAW berdiri mendekati lelaki itu, lalu dia berkata : Apakah kamu tahu apa yang telah disabdakan oleh Rasululloh SAW baru saja? Dia berkata lagi : Sesungguhnya aku akan mengajarkan satu kalimat kalau dia membacanya sungguh akan hilang hal itu darinya A'UUDZU BILLAAHI MINAS-SYAITHOONIR-RAJIIM, lalu lelaki yang marah itu berkata kepada lelaki yang menyampaikan sabda Nabi SAW : Apakah dia melihat aku sebagai orang gila??" Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari

وروى مسلم أيضا عن عثمان بن أبي العاص الثقفي أنه أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يارسول الله، إن الشيطان قد حال بينى وبين صلاتي وقراءتي يلبسها علي، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : " ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ منه واتفل عن يسارك ثلاثا " قال : ففعلت فأذهبه الله عني.
وروى أبو داود عن ابن عمر قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سافر فأقبل عليه الليل قال : " يأرص ربي وربك الله أعوذ بالله من شرك ومن شر ما خلق فيك ومن شر ما يدب عليك ومن أسد وأسود ومن الحية والعقرب ومن ساكني البلد ووالد وما ولد.
Dan Imam Muslim juga meriwayatkan dari Utsman bin Abu al-Ash At-Tsaqofi bahwasanya dia datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Wahai Rasululloh, sesungguhnya setan telah bertingkah di antara aku dan sholatku serta bacaan-ku dikacaukan kepadaku, lalu Rasululloh SAW bersabda kepadanya : "Itulah setan yang disebut Khonzab, apabila dia kamu merasakannya, maka berta'awwudzlah kamu darinya serta meludahlah kamu ke arah kirimu sebanyak tiga kali", dia berkata : lalu aku mengerjakannya, maka Alloh menghilangkannya dariku.

وروت خولة بنت حكيم قالت : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: " من نزل منزلا ثم قال : أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، لم يضره شئ حتى يرتحل ". وأخرجه الموطأ ومسلم والترمذي وقال : حديث حسن غريب صحيح.
Dan telah meriwayatkan oleh Khoulah binti Hakim telah berkata : Saya telah mendengar Rasululloh SAW bersabda : "Barangsiapa yang singgah pada suatu tempat persinggahan kemudian dia membaca : A'UUDZU BIKALIMAATILLAAHI AT-TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ, maka tidak ada sesuatupun yang akan membahayakannya sampai dia pindah tempat". (H.R. Imam Malik di dalam al-Muwatho' dan Imam Muslim serta Imam at-Tirmidzi), dan Imam at-Tirmidzi berkata : ini adalah hadits yang hasan ghorib lagi shohih

TAFSIR TA'AWUDZ

تفسير أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

TAFSIR A'UUDZU BILLAAHI MINAS-SYAITHOONIR-RAJIIM
By: Dawam Mu'allim
أستجير بالله دون غيره من سائر خلقه من الشيطان أن يضرني في ديني، أو يصدني عن حق يلزمني لربي.
Aku berlindung kepada Alloh dan tidak kepada selain-Nya dari segenap makhluq-Nya dari gangguan setan apabila dia membahayakanku di dalam agamaku atau apabila dia menghalang-halangiku dari kebenran yang telah mewajibkan ke...pada diriku bagi Tuhanku

والشيطان في كلام العرب كل متمرِّد من الجن والإنس والدوابِّ وكل شيء. وكذلك قال ربّنا جل ثناؤه : { وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإنْسِ وَالْجِنِّ } [سورة الأنعام :١١٢] ، فجعل من الإنس شياطينَ، مثلَ الذي جعل من الجنّ.
Dan Setan di dalam pembicaraan orang Arab adalah setiap yang durhaka dari jenis jin, manusia, binatang melata dan juga tiap-tiap sesuatu. Oleh sebab itulah Alloh Jalla Tsana-uh berfirman : "Dan seperti demikian itu Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi sebagai musuhnya para setan manusia dan jin" (Q.S. al-An'am : 112). Maka Alloh telah menjadikan setan-setan dari jenis manusia seperti yang telah Dia jadikan setan-setan dari jenis jin.

وأما الرجيم فهو : فَعيل بمعنى مفعول، كقول القائل : كفٌّ خضيبٌ، ولحيةٌ دهين، ورجل لَعينٌ، يريد بذلك : مخضوبة ومدهونة وملعون. ومعنى الرجيم : الملعون المشتوم. وكل مشتوم بقولٍ رديء أو سبٍّ فهو مَرْجُوم. وأصل الرجم الرَّميُ بقول كان أو بفعل. ومن الرجم بالقول قول أبي إبراهيم لإبراهيم صلوات الله عليه: { لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ } [سورة مريم : ٤٦].
Dan adapun Ar-Rajiim, maka dia adalah Isim Fai'il (pelaku) yang bermakna Isim Maf'ul (obyek), seperti perkataannya orang yang berkata : Telapak yang berwarna hijau, dan jenggot yang berminyak wangi, serta lelaki yang terlaknat, yang dimaksudkan dengan hal itu adalah : Makhdhuubatun (Diberi warna), Madhuunatun (Diberi minyak wangi), Mal'uunatun (Dilaknat). Dan makna Ar-Rajiim adalah Al-Mal'uun al-Masytuum (Yang dilaknat lagi di caci maki). Dan tiap-tipa yang dicaci maki dengan perkataan yang kotor atau hina maka dia adalah Marjuum (dilaknat),. Sedangkan asli kata ar-Rojmu adalah Ar-Romyu (dilempari) baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, dan salah satu contoh ar-Rojmu dengan perkataan adalah ucapannya ayah Nabi Ibrohim kepada Nabi Ibrohim : "Jika kamu tidak menghentikan perbuatanmu, maka sungguh aku akan merajam-mu" (Q.S. Maryam : 46).

وقد يجوز أن يكون قِيل للشيطان رجيمٌ، لأن الله جل ثناؤه طرَده من سَمواته، ورجمه بالشُّهب الثَّواقِب
Dan kadang-kadang boleh bila ada dikatakan kepada setan dengan kata Rojiim (yang terlaknat) karena Alloh Jalla Tsana-uh telah menggusir setan dari langit-langit-Nya, serta telah melemparinya dengan bintang meteor dan nyala api

I'ROB REDAKSI TA'AWUDZ

I'ROBNYA REDAKSI TA'AWWUDZ / ISTI'AADZAH
By Dawam Mu'allim

Ta'wwudz adalah shighot isim masdar dari wazan ta'awwada - yata'awwadzu - ta'awwudzan

Dan Isti'adzah juga shighot Isim masdar dari wazan ista'aadza - yasta'iidzu - isti'aadzan / isti'aadzatan

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

أعوذ : فعل وفاعل، أعوذ فعل مضارع مرفوع لتجرده من الناصب والجازم وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره، أعُوذ أصله أعْوُذ على وزن أفعُل، نقلت ...حركة الواو إلى ما قبلها فصار أعوذ، وفاعله ضمير مستتر وجوبا تقديره أنا، بالله : جار ومجرور متعلق بأعوذ، الباء حرف جر ولفظ الجلالة مجرور بها، وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره لأنه الإسم المفرد، من الشيطان : جار ومجرور متعلق بأعوذ، من حرف جر، الشيطان مجرور بها، وعلامة جر كسرة ظاهرة في آخره لأنه الإسم المفرد، الرجيم : نعت للشيطان، ونعت المجرور مجرور

A'UUDZU adalah Fi'il dan Fa'il, A'UUDZU : Fi'Il Mudhori' dibaca rofa' karena sendirinya dia dari 'amil nashob dan 'amil jazem, dan alamat rofa'nya adalah dhommah yang nampak di akhirnya lafadz A'uuadzu, sedangkan aslinya lafadz A'uudzu adalah A'wudzu mengikuti wazan Af'ulu, dipindah harokatnya wawu ke pada huruf sebelumnya, lalu menjadi-lah A'uudzu, dan Fa'ilnya adalah dhomir mustatir wujub taqdirnya adalah Ana (saya). BILLAAHI adalah Jaar dan Majrur yang bergantungan dengan lafadz A'uudzu, BA'nya adalah huruf jer, sedangkan Lafdzul Jalalah (Alloh) di baca jer dengan BA', dan alamat jernya adalah kasroh yang nampak di akhrinya lafadz karena dia adalah Isim Mufrod, MINAS-SYATHOONI adalah Jer dan Majrur yang bergantungan dengan lafadz A'uudzu, MIN adalah huruf Jer, AS-SYAITHOONI dimajrurkan dengan MIN, dan alamat jer-nya adalah kasroh yang nampak di akhirnya karena dia adalah Isim Mufrod, AR-RAJIIM adalah Na'at (shifat) bagi lafadz As-Syaithon, sedangkan Na'atanya yang dibaca jer adalah ikut dibaca jer