بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاماتاما على سيدنا محمدالذى تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى اله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Selasa, 01 Mei 2012

PEMBUKAAN TAFSIR SURAT AL-BAQOROH

By: Dawam Mu'allim S.Fb.I

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه

فضل سورة البقرة
FADHILAH SURAT AL-BAQOROH

SEBAGAI CAHAYA KHUSUS BAGI UMAT ISLAM

Imam Muslim rahumahullah, meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, berkata

بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ : هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاّ الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ، فَقَالَ : هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى اْلأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ وَقَالَ : أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ : فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ. {رواه مسلم (٨٠٦)}. حديث صحيح
“Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi SAW, ia mendengar suara pintu terbuka dari atasnya, lalu ia mengangkat kepalanya, kemudian ia berkata : ini adalah suara pintu dari langit yang telah dibuka pada hari ini, dan ia tidak akan dibuka sama sekali kecuali pada hari ini, lalu turunlah malaikat darinya, lalu berkata : ini adalah malaikat yang telah turun ke bumi, ia tidak akan turun sama sekali kecuali pada hari ini, lalu ia mengucapkan salam dan berkata : Berikanlah kabar gembira dengan dua cahaya, yang tidak diberikan keduanya kepada seorang nabi-pun sebelum kamu, (yaitu) Fatihah Al-Kitab, dan akhirnya surat Al-Baqarah , tidaklah kamu membaca pada satu huruf dari keduanya melainkan kamu akan diberikannya”. (H.R. Muslim, No Hadits : 806). Hadits Shohih

SEBAGAI PENGUSIR SETAN DALAM RUMAH

Imam Muslim, At-Trimidzi dan Ibnu Majah, telah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مَنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.{رواه مسلم (٧٨٠)، والترمذي (٢٨٧٧)، واللفظ لمسلم} وقال الترمذي : هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ
“Jaganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya syetan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah”. (H.R. Muslim, No Hadits : 780, dan At-Tirmidzi, No Hadits : 2877). Redaksi ini milik Imam Muslim

SEBAGAI STANDART KEALIMAN SESEORANG

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, berkata : Rasulullah SAW, mengirim suatu utusan, dan jumlah mereka banyak, lalu beliau menyuruh, agar mereka membaca Al-Qur’an satu-persatu di hadapan beliau, lalu datang seorang lelaki yang lebih muda usianya, lalu beliau SAW, bersabda

مَا مَعَكَ يَا فُلاَنُ؟ قَالَ : مَعِي كَذَا وَكَذَا، وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ، قَالَ : أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ؟ فَقَالَ : نَعَمْ، قَالَ : فَاذْهَبْ! فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ. {رواه الترمذي (٢٨٧٦)}. وقال : هذا حديثٌ حسنٌ
“Apakah yang ada padamu wahai fulan?, ia menjawab : Besertaku surat ini dan itu, dan surat Al-Baqarah, beliau bersabda : Apakah besertamu ada Surat Al-Baqarah?, ia menjawab : Iya, beliau bersabda : Pergilah!, dan kamu adalah pemimpin mereka”. (H.R. At-Tirmidzi, No Hadits : 2876). Dan ia berkata : Ini hadits hasan

Senin, 30 April 2012

PENUTUP DI DALAM TAFSIRNYA SURAT AL-FATIHAH

خاتمة في تفسير سورة الفاتحة
PENUTUP DI DALAM TAFSIRNYA SURAT AL-FATIHAH
By: Dawam Mu'allim S.Fb.I


Untuk mengakhiri pembahasan Tafsir Surat al-Fatihah, maka berikut ini kami nuqilkan satu hadits shohih sebagai bahan renungan untuk kita bersama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ، فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ : إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ، فَقَالَ : إقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }، قَالَ : مَجَّدَنِي عَبْدِي، وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }، قَالَ : هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ { إهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ }
قَالَ : هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. رواه مسلم (٣٩٥)، والترمذي (٢٩٥٣)، وابن ماجه (٣٧٨٤)، هذا حديث صحيح

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa yang sholat pada suatu sholat yang dia tidak membaca di dalamnya Ummul Qur'an maka sholatnya Khidaj (buntung)", beliau mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali, yang artinya tidak sempurna. Lalu ditanyakan kepada Abu Hurairah : Sesungguhnya kami berada di belakang imam (menjadi makmum), maka Abu Hurairah menjawab : Bacalah Ummul Qur'an di dalam dirimu sendiri (jangan keras-keras membacanya), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasululloh SAW bersabda : Alloh Ta'ala berfirman : AKU telah membagi sholat antara aku dengan hamba-KU menjadi dua bagian, dan bagi hamba-KU apa saja yang dia minta, apabila hamba-KU mengucapkan : ALHMADULILLAAHI ROBBIL 'AALAMIIN, maka Alloh Ta'ala berfirman : HAMBA-KU TELAH MEMUJI-KU, dan apabila dia mengucapkan : AR-ROHMAANIR-RAHIIM, maka Alloh Ta'ala berfirman : HAMBA-KU TELAH MEMUJA-KU, dan apabila dia mengucapkan : MALIKI YAUMIDDIIN, maka Alloh Ta'ala berfirman : HAMBA-KU TELAH MENGANGUNKAN AKU, serta DIA berfirman : HAMBA-KU TELAH PASRAH KEPADA-KU, dan apabila dia mengucapkan : IYYAAKA NA'BUDU WA IYYAAKA NASTA'IIN, maka Alloh Ta'ala berfirman : INI ADALAH ANTARA AKU DAN HAMBA-KU, DAN BAGI HAMBA-KU TERSERAH APA YANG DIA MINTA, dan apabila dia mengucapkan : IHDINASH-SHOROOTHOL MUSTAQIIM, SHIROOTHOL-LADZIINA AN'AMTA 'ALAIHIM GHOIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM WALADLOOLLIIN, maka Alloh Ta'ala berfirman : INI ADALAH UNTUK HAMBA-KU, DAN BAGI HAMBA-KU TERSERAH APA SAJA YANG DIA MINTA". (H.R. Muslim No ; 395), At-Tirmidzi No ; 2953, dan Ibnu Majah No : 3784). Hadits Shohih

تنبيهان

تنبيهان
DUA PERINGATAN
By: Dawam Mu'allim S.Fb.I

Pertama) : Karena Surat al-Fatihah adalah as-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan ayat yang pertama adalah Basmalah, maka ayat yang ke tujuh adalah SHIROTHOL-LADZIINA AN'AMTA 'ALAIHIM GHOIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM WALADLOOLLIIN", oleh sebab itu pada ayat yang ketujuh ini hendaknya tidak waqof (mengentikan bacaan) pada AN'AMTA 'ALAIHIM

والأولى أن لا يقف على "أنعمت عليهم"، لأنه ليس بوقف ولا منتهى آية عندنا، فإن وقف على هذا لم تسن الإعادة من أول الآية
Syech Zainuddin al-Malibariy di dalam kitab Fathul Mu'in berkata : Yang lebih utama hendaknya seseorang tidak waqof (mengentikan bacaan) pada "AN'AMTA 'ALAIHIM", karena sesungguhnya tidak ada waqof di dalamnya dan juga tidak penghabisan ayat menurut pendapat kami, lalu jika dia waqof di situ, maka tidak disunnahkan mengulangi bacaan dari awal ayat

Kedua) : Disunnahkan membaca Ta'min (AAMIIN) setelah membaca WALADLOOLLIIN, baik di luar sholat maupun di dalam sholat, baik menjadi imam maupun menjadi makmum

فإذا فرغ من الفاتحة يستحب أن يقول "آمين" بالتخفيف والمد، وهو إسم فعل مبني على الفتح، ويسكن عند الوقف، وهو بمعنى اللهم استجب، ويسن الجهر به في صلاة الجماعة الجهرية لقوله صلى الله عليه وسلم :
Apabila telah selesai dari al-Fatihah disunnahkan membaca AAMIIN dengan tanpa tasydid dan dengan dipanjangkan, dan AAMIIN adalah isim fi'il yang mabni fath, dan dibaca sukun atau mati apabila diwaqofkan (menghentikan bacaan), dan AAMIIN maknanya adalah "Ya Alloh kabulkanlah" dan disunnahkan mengeraskan bacaan AAMIIN di dalam sholat berjama'ah yang jahr karena berdasarkan sabda Rasululloh SAW

إِذَا أَمَّنَ اْلإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. {رواه البخاري (٧٨٠)، ومسلم (٤١٠)}. عن أبي هريرة رضي الله عنه
Apabila imam membaca Amin, maka bacalah Amin, karena sesungguhnya barangsiapa yang bertepatan bacaan aminnya dengan bacaan aminnya Malaikat, maka diampuni baginya sesuatu yang telah terdahulu dari dosa-dosanya”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 780, dan Muslim, No Hadits : 410

Minggu, 29 April 2012

TAFSIRNYA AYAT KE TUJUH DARI SURAT AL-FATIHAH

تفسير الآية السابعة من سورة الفاتحة
TAFSIRNYA AYAT KE TUJUH DARI SURAT AL-FATIHAH
By: Dawam Mu'allim S.Fb.I

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
SHIROTHOL-LADZIINA AN'AMTA 'ALAIHIM GHOIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM WALADL-DLOOLLIIN (Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau berikan kenikmatan kepada mereka selain jalannya orang-orang yang dimurakai dan juga selain jalannya ...orang-orang yang sesat

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ : مفسر للصراط المستقيم. وهو بدل منه عند النحاة، ويجوز أن يكون عطف بيان. والذين أنعم الله عليهم هم المذكورون في سورة النساء : وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا * ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (النساء : ٦٩-٧٠)
SHIROTHOL-LADZIINA AN'AMTA 'ALAIHIM : Adalah sebagai penjelas bagi kalimat ASH-SHIROOTHOL MUSTAQIIM, dan dia menjadi badal minhu (Pengganti darinya) menurut para ulama ahli nahwu, dan boleh juga bila dia menjadi 'athof bayan. Sedangkan yang dimaksud dengan "Orang-orang yang telah Alloh berikan kenikmatan kepada mereka" adalah mereka yang telah disebutkan di dalam Surat an-Nisa : 69-70 (Dan barangsiapa yang ta'at kepada Alloh dan rasul-Nya, maka mereka itulah yang bersama orang-orang yang telah memberikan nikmat oleh Alloh kepada mereka dari golongan para nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang sholih, serta mereka itulah sebaik-baiknya teman. Demikian itu adalah anugerah dari Alloh, dan cukuplah Alloh Yang Maha Mengetahui

غَيْرِ : بالجر على البدل من "الذين"، الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ : هم اليهود لقوله تعالى : وباءوا بغضب من الله (البقره : ٦١، وآل عمران : ١١٢)، وَلا الضَّالِّينَ : هم النصارى لقوله عز وجل : قد ضلوا من قبل وأضلوا كثيرا وضلوا عن سواء السبيل (المائدة : ٧٧)
GHOIRI dibaca Jer adalah menjadi badal (pengganti) dari lafadz "AL-LADZIINA" yang kedudukannya menjadi mudlof ilaih. ALMAGHDLUUBI 'ALAIHIM mereka adalah orang-orang Yahudi, karena firman Alloh Ta'ala : "Orang-orang Yahudi mendapat murka dari Alloh" (al-Baqoroh : 61, dan Ali Imron : 112). Dan WALADL-DLOOLLIIN mereka adalah orang-orang Nasrani, karena firman Alloh Ta'ala : " Sungguh mereka (orang-orang Nasrani) telah sesat dari sebelumnya dan mereka menyesatkan orang banyak serta mereka sesat dari selurus-lurusnya jalan" (al-Maidah : 77Lihat Selengkapnya

TAFSIRNYA AYAT KE ENAM DARI SURAT AL-FATIHAH

تفسير الآية السادسة من سورة الفاتحة
TAFSIRNYA AYAT KE ENAM DARI SURAT AL-FATIHAH
By: Dawam Mu'allim

إهدنا الصراط المستقيم أي أرشدنا ووفقنا إليه، والهداية ههنا الإرشاد والتوفيق. فأما الصراط المستقيم فهو في لغة العرب : الطريق الواضح الذي لا إعوجاج فيه، وقال ابن عباس : هو دين الله الذي لا إعوجاج فيه
IHDINASH-SHIROOTOL MUSTAQIIM : Artinya adalah tuntunlah kami dan sukseskanlah kami kepadanya, dan Hidayah di sini bermakna al-Irsyad (Tuntunan) dan at-Taufiiq (Kesuksesan). Adapun ASH-SHIROOTOL MUSTAQIIM, maka di dalam Bahasa Arab artinya adalah jalan yang lurus yang tidak ada kebengkokan di dalamnya, dan Ibnu Abbas berkata : Dia adalah agamanya Alloh yang tidak ada kebengkokan di dalamnya

DZIKIR ADALAH SEUTAMA-UTAMANYA IBADAH

DZIKIR ADALAH SEUTAMA-UTAMANYA IBADAH
By: Dawam Mu'allim S.Fb.I

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ، فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ، وَيَضْرِبُ...وا أَعْنَاقَكُمْ ؟، قَالُوا : بَلَى، قَالَ : ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى.
رواه الترمذي (٣٣٧٦)، وابن ماجه (٣٧٩٠)}. وقال الحاكم أبو عبد الله : هذا حديث صحيح الإسناد
Dari Abu Darda’, r.a, berkata : Nabi SAW, telah bersabda : Maukah saya beritahukan kalian semua pada sebaik-baiknya amal kalian, dan sesuci-sucinya menurut Raja (Tuhan) kalian, dan setinggi-tingginya dalam derajat kalian, dan sebaik-baiknya bagi kalian daripada menginfaqkan emas dan perak, serta sebaik-baiknya bagi kalian daripada bila kalian bertemu dengan musuh kalian, kemudian kalian menebas leher-leher mereka, dan merekapun menebas leher-leher kalian?, mereka menjawab : “Ya”, beliau SAW, bersabda : “Dzikir kepada Allah Ta’ala”. (H.R. At-Tirmidzi, No Hadits : 3376, dan Ibnu Majah, No Hadits : 3790). Dan Al-Hakim berkata : Ini adalah hadits shohih sanadnya

TATACARA MENGUCAPKAN SALAM

TATACARA MENGUCAPKAN SALAM
By: Dawam Mu'allim S.Fb.I

Dari 'Imran bin al-Hishoin ra, berkata : Telah datang seseorang kepada Nabi SAW, lalu dia mengucapkan salam : ASSALAMU'ALAIKUM, maka beliau menjawab : WA'ALAIKUMUSSALAM, beliau bersabda : Dia mendapatkan sepuluh, lalu datang lagi seseorang mengucapkan salam : ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI, maka beliau menjawab : WA'ALAIKUMUSSALAM WAROHMATULLOHI, beliau bersabda : Dia ...mendapatkan dua puluh, kemudian datang lagi seseorang mengucapkan salam : ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKAATUH, maka beliau menjawab : WA'ALAIKUMUSSALAM WAROHMATULLOHI WABAROKAATUH, beliau bersabda : Dia mendapatkan tiga puluh

H.R. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan ad-Darimi

Anda mau dapat berapa??? Sepuluh, atau dua puluh ataukah tiga puluh???Lihat Selengkapnya

Sabtu, 28 April 2012

BENTUK HAMDALAH YANG PALING UTAMA

BENTUK HAMDALAH YANG PALING UTAMA
By: Dawam Mu'allim S. Fb.I

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُمْ : أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِ اللَّهِ قَالَ : يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، فَعَضَّلَتْ بِالْمَلَكَيْنِ، فَلَمْ يَدْرِيَا كَيْفَ يَكْتُبَانِهَا، فَصَعِدَا إِلَى السَّمَاءِ وَقَالاَ: يَا رَبَّنَا إِنَّ عَبْدَكَ قَدْ قَالَ مَقَالَةً لاَ نَدْرِي كَيْفَ نَكْتُبُهَا، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا قَالَ عَبْدُهُ : مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ قَالاَ : يَا رَبِّ إِنَّهُ قَالَ : يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمَا : أُكْتُبَاهَا كَمَا قَالَ عَبْدِي حَتَّى يَلْقَانِي فَأَجْزِيَهُ بِهَا {رواه ابن ماجه (٣٨٠١)}. حديث حسن
Dari Abdullah bin Umar r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW, mengabarkan kepada mereka : Sesungguhnya seorang hamba dari beberapa hambanya Allah berkata : “Wahai Tuhanku, segala puji hanya bagi-Mu sebagaimana sesuatu yang seyogiyanya bagi kemuliaan wajah-Mu, dan bagi keagungan kerajaan-Mu”, maka ia menyempitkan kepada kedua malaikat, keduanya tidak tahu bagaimana cara mencatatnya, lalu keduanya naik ke langit dan keduanya berkata : Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hamba-Mu telah mengucapkan suatu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana cara mencatatnya, Allah Azza Wa jalla berfirman, sedang Dia adalah lebih mengetahui pada apa yang telah diucapkan oleh hamba-Nya : Apakah yang telah diucapkan oleh hamba-Ku?, keduanya menjawab : Wahai Tuhanku sesungguhnya ia mengucapkan : YAA ROBBI LAKALHAMDU KAMAA YANBAGHII LIJALAALIKA WA LI’ADZIIMI SULTHOONIK, maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada keduanya : Catatlah ia sebagaimana yang telah hambaku ucapkan hingga ia berjumpa kepada-Ku, lalu Aku akan membalasnya dengan sebab ucapannya. (H.R. Ibnu Majah, No Hadits : 3801).

Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah, di dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan, bahwa kalimat pujian kepada Allah SWT, yang telah mengumpulkan seluruh bentuk pujian kepada-Nya, adalah riwayat Abu Nahsr At-Tamar dari Muhammad bin Nadzr rahimahullah, berkata :

قَالَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : يَا رَبِّ شَغَلَتْنِي بِكَسْبِ يَدي، فَعَلِّمْنِي شَيْئًا فِيْهِ مَجَامِعُ الْحَمْدِ وَالتَّسْبِيْحِ، فَأَوْحَى اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَيْهِ : يَا آدَمُ إِذَا أَصْبَحْتَ فَقُلْ ثَلاَثًا، وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَقُلْ ثَلاَثًا : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، فَذَلِكَ مَجَامِعُ الْحَمْدِ وَالتَّسْبِيْحِ. (الأذكار، ١٢٧). للنووي
“Nabi Adam AS, berkata : Wahai Tuhanku, telah menyibukkan kepadaku oleh pekerjaan tanganku, maka ajarkanlah kepadaku sesuatu yang di dalamnya mengumpulkan pujian dan tasbih, lalu Allah Tabaroka Wa Ta’ala memberikan wahyu kepadanya, Wahai Adam, apabila kamu masuk waktu pagi, maka ucapkanlah tiga kali, dan apabila kamu masuk waktu sore, maka ucapkanlah tiga kali : ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN HAMDAN YUWAAFI NI’AMAHU WA YUKAAFI-U MAZIIDAH, (segapa puji milik Allah, Tuhan sekalian alam, dengan pujian yang memenuhi pada nikmat-nikmat-Nya, dan mencukupi pada tambahan-Nya), Itu adalah kumpulan pujian dan tasbih”. (Al-Adzakar An-Nawawiyah, hlm : 126)

NB : Untuk itulah para ulama telah memilih dua bentuk hamdalah ini sebelum mengawali do'a, lalu disambung dengan sholawat Nabi SAW

TAFSIRNYA AYAT KE LIMA DARI SURAT AL-FATIHAH

تفسير الآية الخامسة من سورة الفاتحة
TAFSIRNYA AYAT KE LIMA DARI SURAT AL-FATIHAH
By: Dawam Mu'allim S. Fb.I

إياك نعبد وإياك نستعين : قرأ السبعة والجمهور بتشديد الياء من { إياك } وقرأ عمرو بن فايد بتخفيفها مع الكسر وهي قراءة شاذة مردودة لأن "إيا" ضوء الشمس. وقرأ بعضهم : "أياك" بفتح الهمزة وتشديد الياء، وقرأ بعضهم : "هياك" بالهاء بدل الهمزة
IYYAAKA NA'BUDU WA IYYAAKA NASTA'IIN : Para ulama ahli qiro'ah sab'ah dan mayoritas ulama yang lainnya telah membaca dengan tasydid huruf YA' dari IYYAAKA, dan 'Amr bin Fayid membacanya dengan tanpa tasydid, dan bacaan inilah yang salah dan tertolak karena IYAA (Tanpa Tasydid) artinya adalah sinar matahari. Sedangkan sebagian ulama ada yang membaca AYYAAKA dengan harokat fathah huruf hamzahnya dan dengan tasydidnya huruf YA' , dan sebagian ulama juga ada yang membaca HAYYAKA dengan huruf HA' sebagai ganti dari huruf Hamzah

إياك نعبد أي لك اللهم نخشع ونذل ونستكين، إقرارا لك يا ربنا بالربوبية لا لغيرك. والعبادة في اللغة من الذلة، وفي الشرع : عبارة عما يجمع كمال المحبة والخضوع والخوف. وإياك نستعين أي وإياك ربنا نستعين على عبادتنا وطاعتنا لك في أمورنا كلها لا أحدا سواك. فالأول تبرؤ من الشرك، والثاني تبرؤ من الحول والقوة، والتفويض إلى الله عز وجل. وقدم المفعول وهو { إياك } ، وكرر للإهتمام والحصر، أي : لا نعبد إلا إياك، ولا نتوكل إلا عليك، وهذا هو كمال الطاعة
IYYAAKA NA'BUDU artinya adalah bagi-MU ya Alloh kami khusyu', dan merendahkan diri serta kami tertunduk patuh sebagai ikrar bagi-Mu wahai Tuhan kami dengan Ketuhanan tidak untuk selain Engkau. Dan Ibadah di dalam bahasa diambil dari kata ad-Dzullah yang artinya merendahkan diri (menghinakan diri kepada Alloh), dan di dalam syara' adalah suatu ibarat dari sesuatu yang mengumpulkan kesempurnaan cinta dan ketundukan serta rasa takut. IYAAKA NASTA'IIN artinya dan hanya kepada-Mu wahai Tuhan kami, meminta pertolongan oleh kami atas ibadah kami dan keta'atan kami hanya bagi-u di dalam urusan-urusan kami seluruhnya tidak kepada seorang pun selain Engkau. Maka yang pertama adalah pelepasan diri dari kesyirikan dan yang kedua adalah pelepasan diri dari daya dan kekuatan serta penyerahan kuasa penuh kepada Alloh 'Azza Wa Jalla. Dan didahulukannya maf'ul (obyek) yaitu lafadz IYYAAKA serta diulang dua kali karena untuk perkara yang sangat penting dan menggandung makna al-hasr (hanyalah), yaitu Tidak menyembah oleh kami melainkan hanyalah kepada-Mu, dan tidak berserah diri oleh kami melainkan hanyalah kepada-Mu, dan ini adalah kesempurnaannya keta'atan

وقال الصوفيون : إياك نعبد أي لا نعبد إلا إياك ولا نشرك في عبادتك غيرك، فهذا مقام الشريعة، وإياك نستعين أي لا نستعين إلا بك لا بأنفسنا وحولنا لأن العبادة لا تقام إلا بعونه وتسخيره، وهذا مقام الحقيقة
Para ulama ahli tashowwuf berkata : IYYAAKA NA'BUDU artinya adalah tidak menyembah oleh kami melainkan hanyalah kepada-Mu, dan kami tidak menyekutukan-Mu di dalam ibadahku kepada-Mu pada selain Engkau, maka ini adalah maqom syari'at, sedangkan IYYAAKA NASTA'IIN artinya adalah tidak meminta pertolongan oleh kami melainkan hanyalah dengan-Mu, tidak dengan diri kami dan juga tidak dengan daya kami, karena ibadah tidak akan bisa ditegakkan melainkan hanya dengan pertolongan Alloh serta dengan taklukan-Nya, dan ini adalah maqom hakikat

Jumat, 27 April 2012

TAFSIRNYA MALIKI YAUMIDDIN Bagian Kedua

TAFSIRNYA
MALIKI YAUMIDDIN
Bagian Kedua
By Dawam Mu'allim S.Fb.I

يوم الدين : يوم : عبارة عن وقت طلوع الفجر إلى وقت غروب الشمس، فاستعير فيما بين مبتدأ القيامة إلى وقت استقرار أهل الجنة في الجنة وأهل النار في النار. والدين : الجزاء على الأعمال والحساب بها، كذلك قال ابن عباس وابن مسعود وابن جريج وقتادة وغيرهم، وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم، ويدل عليه قوله تعالى: " يومئذ يوفيهم الله دينهم الحق (النور : ٢٥) أي حسابهم.
YAUMIDDIIN : Kata YAUM (hari) adalah suatu ibarat dari waktu terbitnya fajar hingga waktu terbenamnya matahari, lalu kata tersebut dipinjam untuk menerangkan waktu antara permulaannya kiamat hingga waktu menetapnya penduduk surga di dalam surga dan penduduk neraka di dalam neraka. Sedangkan kata ADDIIN artinya pembalasan atas semua amal dan perhitungannya, seperti itulah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Ibnu Juraij, Qotadah dan yang selain mereka, dan telah diriwayatkan dari Nabi SAW, sedangkan dalil yang menguatkan adalah firman Alloh Ta'ala : "Pada hari itu Alloh akan memberi balasan yang setimpal menurut yang semestinya" (an-Nur : 25), artinya adalah perhitungan amal mereka

يوم الدين : أي يوم القيامة، ولم خصص يوم الدين وهو مالك يوم الدين وغيره ؟ فالجواب لأن في الدنيا كانوا منازعين في الملك، مثل فرعون ونمروذ وغيرهما، وفي ذلك اليوم لا ينازعه أحد في ملكه، وكلهم خضعوا له كما قال تعالى : لمن الملك اليوم لله الواحدالقهارِ (غافر : ١٦). وقال سبحانه وتعالى : وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ، يَوْمَ لاَ تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَاْلأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (الإنفطار : ١٧، ١٨، ١٩).
YAUMIDDIIN : artinya adalah hari kiamat, dan mengapa Alloh mengkhususkan hari kiamat sedangkan DIA adalah pemilik hari kiamat dan semua hari selain hari kiamat? Maka jawabnya adalah karena di dunia banyak manusia yang mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa seperti Fir'aun, Namrud dan selain keduanya. Sedangkan pada hari itu tidak ada lagi seorang pun yang mendeklarasikan dirinya dalam kekuasaanya, dan semua makhluq tunduk kepada Alloh, sebagaimana DIA berfirman : "Untuk siapakah kekuasaan pada hari ini? (Lalu semua makhluq menjawab) : Untuk Alloh Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa" (Q.S. Ghofir : 16), dan DIA juga berfirman : "Tahukah kamu apakah itu Yaumuddin?, kemudian tahukah kamu apakah itu Yaumuddin?, pada hari dimana seseorang tidak dapat memiliki sesuatu pun untuk dirinya sendiri, dan segala urusan pada hari itu adalah milik Alloh" (Q.S. al-Infithor : 17, 18, 19

NB : Silahkan manusia di dunia ini mencari pelindung dan penguasa selain Alloh Ta'ala, silahkan manusia menjadikan atasannya seperti Tuhan, silahkan manusia menjadikan harta dan jabatannya sepert Tuhan, namun pada hari itu tidak ada lagi penguasa dan pelindung selain Alloh 'Azza Wa Jalla